HIKMAH RABBANIYAH

TAHARAH

Taharah adalah perbuatan mensucikan tubuh dari segala najis dan kotoran. Ini disebut dengan Taharah Hakikiyah. Adapun taharah yang bersifat mensucikan tubuh dari hadas disebut dengan Taharah Hukmiyah. Apapun jenisnya, taharah disyariatkan sebagai syarat sahnya shalat.

HIKMAH DI BALIK PENSYARIATAN TAHARAH
Taharah disyariatkan sebagai syarat untuk beribadah kepada Allah swt. Terutama shalat. Sebab shalat tidak sah jika tidak diawali dengan taharah terlebih dahulu. Shalat adalah pilar islam yang kedua setelah keimanan kepada Allah. Shalat adalah munajat dan bukti penghambaan seorang hamba kepada Tuhannya. Ibadah ini juga merupakan pernyataan kita bahwa Allah swt adalah Dzat Yang Maha Agung, sementara kita hanyalah makhluk yang rendah dan hina di hadapan-Nya. Oleh karena itulah, seseorang yang menunaikan ibadah shalat, dituntut untuk berada dalam kondisi yang suci dan bersih, sehingga suasana hatinya menjadi begitu kondusif saat menghadap Allah di dalam ibadah ini. Kesucian dan kebersihan tersebut tentu saja harus di awali oleh kebersihan diri dan pakaian dari berbagai kotoran dan najis.

Sebenarnya keberadaan taharah sendiri sudah merupakan suatu ibadah yang akan mendapatkan pahala dari Allah swt. Syariat islam yang mengandung aktivitas peribadatan dan sumber kebahagiaan telah menganggap bahwa taharah adalah ibadah yang menjadi syarat sah bagi beberapa ibadah lainnya. Sehingga tujuan dari penetapan hukum syariat tersebut bisa tercapai secara optimal.


HIKMAH DI BALIK PENSYARIATAN WUDHU
Syarat sah shalat adalah dengan terlebih dahulu berwudhu. Sebab shalat merupakan ibadah yang menjadi bukti ketundukan seorang hamba dan pengagungannya terhadap Dzat Allah swt. Oleh karena itulah saat melakukannya kita harus berada dalam keadaan suci. Khususnya bagian-bagian tubuh yang paling sering bersentuhan dengan benda lain dan paling mudah dipandang mata. Karenanya, bagian tubuh yang menjadi anggota wudhu adalah bagian yang paling sering bersentuhan dengan benda lain dan paling mudah dilihat oleh mata. Sebab bagian-bagian itulah yang rentan terkenan kotoran ataupun najis. Namun meski kedua jenis kotoran itu tak ada, anggota wudhu harus tetap disucikan. Inilah perwujudan dari sikap kebersihan dan menjaga keindahan. Sehingga ritual pengagungan Allah swt dan mendekatkan diri kepada-Nya, menjadi begitu hikmat dalam suasana yang agung.

Hikmah lainnya, bahwa dengan berwudhu kita seolah memiliki alarm tersendiri dalam menjaga kesucian batin dari segala penyakit hati, seperti iri, dengki, sombong, dan berburuk sangka terhadap muslim lainnya, serta dosa-dosa lainnya.

Dengan berwudhu kita sama saja dengan menghapuskan dosa yang dilakukan oleh anggota wudhu. Seperti dosa tangan yang mungkin pernah mengambil barang yang haram. Dosa kaki yang mungkin pernah berjalan ke tempat yang haram. Dosa mata, yang mungkin kerap memandang kepada yang haram, dosa mulut yang bisa jadi pernah berkata dan memakan yang haram, ataupun dosa telinga yang mungkin pernah mendengar ucapan yang haram, senda gurau yang sia-sia, ataupun kalimat-kalimat dusta.

Dengan berwudhu, semua dosa yang pernah dilakukan oleh anggota-anggota tubuh tadi, menjadi berguguran. Hal ini sebagaimana yang tercantum dalam sebuah riwayat yang menyatakan bahwa wudhu menggugurkan dosa. (penulis: Dr. Abdullah Taufiq- Penerjemah: Abdi PK)

Last Updated on Saturday, 24 March 2012 09:14

 

SELAMAT MENGHADAPI RANGKAIAN UJIAN AKHIR BAGI KELAS ENAM, KAMI MENDOAKAN SEMOGA SUKSES DENGAN HASIL DAN PRESTASI YANG MEMBANGGAKAN. AMIN